Selamat Tinggal Kenangan. Selamat Datang Kerinduan.
Rumah sudah mulai berantakan. Kertas-kertas bekas sudah mulai berserakan. Kardus-kardus kosong sudah mulai terisi. Keranjang-keranjang yang dulu tempat makanan, menjadi penuh dengan barang pecah belah. Foto-foto didinding sudah mulai dilepas. Piring, sendok, gelas, semua sudah siap untuk dibawa pergi. Tak lupa juga dengan kardus yang berisi baju. Baju yang masih sangat ku ingat ketika mereka memakainya, baju yang sampai sekarang masih tercium bau keringat mereka. Yah, semua sudah siap untuk diangkut dan meninggalkan gubuk yang sedikit kokoh ini. Aku, kami akan pergi. Meninggalkan jejak kerinduan yang suatu saat nanti pasti jadi kenangan. Selamat tinggal kenangan. Selamat datang kerinduan. Walau sedetik, datanglah mendekat. Biar aku bisa merasakan kerinduan akan masa laluku.
Dulu, semua indah. Banyak tawa, canda sampai cacian dan makian yang membuatku kuat. Sekarang? Semua pergi dengan perlahan meninggalkan titik merah yang membekas menjadi lara. Biar, biarkan lara ini tetap ku pegang kuat sehingga suatu saat menjadi bara yang kuat melawan air kehidupan.
Lukisan indah didinding sudah mulai berkata, "jangan tinggalkan kami sendiri". Lalu aku menjawab, "hei, kamu akan baik-baik saja disini. Karena kita semua tahu, pada akhirnya manusia bahkan apapun itu akan hidup masing-masing nanti". Walau kita tak bisa bertatap mata lagi, yakinlah kita masih bisa berjumpa dalam sebuah kerinduan didalam angan nanti. Kita begitu kuat, hingga angin topan ingin merobohkan kita.
Ragaku memang pergi, pergi meninggalkan kalian disini. Tapi ingatlah, jiwaku masih kuat melekat bahkan disetiap ukiran dindingmu. Terima kasih pengalaman. Terima kasih untuk kehangatan yang sudah kamu berikan di masa lalu. Aku masih bahagia, yah walaupun aku masih juga mencoba kembalikan bahagiaku.
Tanah dengan luas kurang lebih 600 meter persegi ini, sedikitpun tak akan pernah ku lupa. Walau aku sendiri juga tahu, sebagian ragaku terkubur rapi di tanahmu. Ragaku, kakakku dan adikku. Semua masih begitu melekat.
Tuhan, jika saja aku bisa memilih. Apa Engkau mau memberikan takdir yang tak seperti ini? Membiarkanku memilih takdir untuk bahagiaku. Karena sebenarnya aku tidak bahagia dengan cara seperti ini. Tapi siapa aku Tuhan? Aku hanya salah satu dari ciptaanMu. Aku tak memiliki kuasa untuk mengubahnya. Mungkin biarkan semua mengalir hingga kita berjumpa lagi dilautan.
Berat? Ya memang berat, tapi aku harus. Harus melalui semua dan membiasakan semua. Aku hanya ingin sedikit lega dengan apa yang baru saja aku mulai. Tapi tenanglah, karena suatu saat nanti aku akan menyampaikan kerinduanku. Yah, karena suatu kelak nanti, anginpun aku menitipkan kerinduanku lewat hembusan sejuknya. Walau aku akan menjadi sangat jauh, tapi tenanglah, semua yang aku miliki sebenenya masih tertata rapi disini. Sudah melekat, mereka sudah melekat. Selamat tinggal kenangan. Selamat datang kerinduan :)
Rumah sudah mulai berantakan. Kertas-kertas bekas sudah mulai berserakan. Kardus-kardus kosong sudah mulai terisi. Keranjang-keranjang yang dulu tempat makanan, menjadi penuh dengan barang pecah belah. Foto-foto didinding sudah mulai dilepas. Piring, sendok, gelas, semua sudah siap untuk dibawa pergi. Tak lupa juga dengan kardus yang berisi baju. Baju yang masih sangat ku ingat ketika mereka memakainya, baju yang sampai sekarang masih tercium bau keringat mereka. Yah, semua sudah siap untuk diangkut dan meninggalkan gubuk yang sedikit kokoh ini. Aku, kami akan pergi. Meninggalkan jejak kerinduan yang suatu saat nanti pasti jadi kenangan. Selamat tinggal kenangan. Selamat datang kerinduan. Walau sedetik, datanglah mendekat. Biar aku bisa merasakan kerinduan akan masa laluku.
Dulu, semua indah. Banyak tawa, canda sampai cacian dan makian yang membuatku kuat. Sekarang? Semua pergi dengan perlahan meninggalkan titik merah yang membekas menjadi lara. Biar, biarkan lara ini tetap ku pegang kuat sehingga suatu saat menjadi bara yang kuat melawan air kehidupan.
Lukisan indah didinding sudah mulai berkata, "jangan tinggalkan kami sendiri". Lalu aku menjawab, "hei, kamu akan baik-baik saja disini. Karena kita semua tahu, pada akhirnya manusia bahkan apapun itu akan hidup masing-masing nanti". Walau kita tak bisa bertatap mata lagi, yakinlah kita masih bisa berjumpa dalam sebuah kerinduan didalam angan nanti. Kita begitu kuat, hingga angin topan ingin merobohkan kita.
Ragaku memang pergi, pergi meninggalkan kalian disini. Tapi ingatlah, jiwaku masih kuat melekat bahkan disetiap ukiran dindingmu. Terima kasih pengalaman. Terima kasih untuk kehangatan yang sudah kamu berikan di masa lalu. Aku masih bahagia, yah walaupun aku masih juga mencoba kembalikan bahagiaku.
Tanah dengan luas kurang lebih 600 meter persegi ini, sedikitpun tak akan pernah ku lupa. Walau aku sendiri juga tahu, sebagian ragaku terkubur rapi di tanahmu. Ragaku, kakakku dan adikku. Semua masih begitu melekat.
Tuhan, jika saja aku bisa memilih. Apa Engkau mau memberikan takdir yang tak seperti ini? Membiarkanku memilih takdir untuk bahagiaku. Karena sebenarnya aku tidak bahagia dengan cara seperti ini. Tapi siapa aku Tuhan? Aku hanya salah satu dari ciptaanMu. Aku tak memiliki kuasa untuk mengubahnya. Mungkin biarkan semua mengalir hingga kita berjumpa lagi dilautan.
Berat? Ya memang berat, tapi aku harus. Harus melalui semua dan membiasakan semua. Aku hanya ingin sedikit lega dengan apa yang baru saja aku mulai. Tapi tenanglah, karena suatu saat nanti aku akan menyampaikan kerinduanku. Yah, karena suatu kelak nanti, anginpun aku menitipkan kerinduanku lewat hembusan sejuknya. Walau aku akan menjadi sangat jauh, tapi tenanglah, semua yang aku miliki sebenenya masih tertata rapi disini. Sudah melekat, mereka sudah melekat. Selamat tinggal kenangan. Selamat datang kerinduan :)


Comments
Post a Comment