Sedikit Mengutip

Well, kita kembali pada masa dimana semua masih terasa lengkap.
Malam ini, satu per satu teman samping kanan kiri rumah mulai didatangi. Kami berbicara, bercengkrama, dan sedikit selingan juga bernostalgia. Mereka berdua adalah teman kecil almarhum ibuku. Kami biasa memanggil budhe Endang dan budhe Sri. Diusia mereka yang sudah tidak muda lagi, begitu banyak cerita yang keluar akan masa lalu. Yap, ternyata mereka juga merindukan kedua orangtuaku. Tidak sedikit yang mereka bahas. Dari ibu masih sendiri hingga akhirnya bertemu bapak, bahkan sampai tiba saatnya menutup mata. Aku sangat bahagia, karena tidak ada sedikitpun cerita keburukannya. Ibu memang dikenal sebagai orang yang "lomo" atau bisa diartikan suka memberi. Ibu suka membantu tetangga yang terkena musibah. Ibu orang yang sabar, bahkan sampai dicaci maki, direndahkan oleh beberapa orang, beliau tetap tersenyum dan menganggap itu adalah sebuah kritik yang membangun. Yah, itulah ibu menurut budhe Endang. Sayangnya, kami (aku dan masku) terbentur waktu yang mulai menyapa dengan dingin angin malam. Namun setidaknya cerita tentang kedua orang tuaku benar-benar membuatku kembali ke masa itu. Hal ini sangat membantuku untuk mengobati rasa rinduku.
Banyak tawaran malam ini untuk tidur dirumah mereka. Aku menolak, bukan karena aku tak mau, tapi karena aku tak ingin semakin lama disini dan teringat akan rumah yang sudah kutinggalkan. Rumahku terletak dipinggir jalan raya Solo-Surabaya. Tepat di jalan PB. Sudirman nomor 67 RT : 09 RW : 02. Dulu lingkungan kami terkenal dengan ibu-ibu yang pandai memasak. Salah satu diantaranya adalah ibuku. Karena kegemarannya memasak, ibu memulai usaha catering. Setiap hari setiap pulang dari kantor, ibu menghabiskan waktunya di dapur. Tentu saja ibu tak pernah sendiri. Selalu ada satu atau dua bahkan lebih membantunya di dapur. Ibu terkenal dengan roti pisangnya, yang sampai sekarang aku belum menemukan roti pisang seenak buatan ibu. Rindu, jelas rindu jika mengingat semua itu. Ketika masakan ibu ada sisa, ibu tak pernah lupa dengan tetangga. Ntah satu atau dua biji, ibu selalu membagikan kepada tetangga. Hingga saat ini, aku merasa rasa lomoku ini adalah keturunan dari ibuku. Beliau dikenal sebagai orang yang giat bekerja. Ibu adalah superwomanku. Ibuku adalah pintu kekuatanku untuk menghapi dunia. Tanpanya, aku tak akan menjadi sekokoh ini.
Dulu, ibuku selalu mengajariku untuk berkembang dengan filosofi tanaman. Jika kamu menyirami tanaman hingga besar, maka hiduplah tanaman sebagai penopang dan pelindungmu saat panas. Jadilah orang yang selalu memupuk tanaman hingga akhirnya kelak dapat melindungimu. Itulah yang sampai saat ini selalu ku jadikan pedoman hidupku. Kita kembali kepada cerita pendek tadi. Bahagia rasanya jika melihat budhe Endang bercerita tentang ibuku. Beliau mirip sekali dengan ibu. Dari kecil hingga setua ini, beliau masih saja ingat setiao kata dan sikap yang dilakukan ibuku. Mereka begitu dekat. Bahkan hampir setiap malam, mereka selalu bercerita. Entah itu bernostalgia atau bergosip tentang tetangga sebelah. Setiap malam, jika aku mencari ibuku, selalu saja aku mencari dirumah budhe Endang. Rasanya begitu kehilangan, jika aku ingat lagi aku sudah tak punya rumah disini. Tetapi aku tak pernah peduli. Begitu banyak rumah yang siap menyambutku pulang jika aku merindukan Ngawi. Kota ini begitu kecil, tapi tidak untuk kenangan yang sudah memberiku inspirasi. Setiap sudur sunyi kota ini, sudah seperti keramaian yang tak akan pernah membiarkanku sendiri. Aku mulai mengerti, bahkan manusia memanglah akhirnya akan sendiri. Yah, aku sudah mulai berjalan dikesendirianku. Aku sudah meraba setiap jejak yang membuatku sunyi. Aku masih sendiri, tapi setiap kenangan di kota ini tak pernah membiarkanku sendiri. Terima kasih Ngawi. Terima kasih untuk kenangan yang kau berikan. Terima kasih untuk pengalamanyang begitu menakjubkan. Tunggu aku kembali, hingga aku bisa menikmati sunyimu di masa tua nanti. Tunggu aku kembali, hingga aku bisa bernostalgia lagi. Sekali lagi, terima kasih.

Comments

Popular Posts