Sebuah tulisan sederhana untuk kawan yang istimewa
Waktu tetap terus berjalan, bahkan ketika jam dinding tak punya baterai untuk menghidupinya
Malam tetap menjadi malam, siangpun juga
Saat itu kelas pertama telah dimulai dengan seorang dosen yang bernama Ishida
Beliau begitu cekatan dan rapi dalam segala hal, "I think"
Masih ingat sekali, saya duduk dibangku nomor dua bersama teman sebangku saya, Estu namanya
Dalam keadaan kelas yang begitu masih sunyi, datangnya seorang teman yang lain, menyapa dengan penuh kehangtan dan bahagia
Orangnya berjilbab, memakai kaca mata dan cantik tentunya
Saat itu juga dia bertanya dan mengajak kenalan, kusodorkan tangan agar dapat berjabat tangan dengannya
Kuucap "Viema" sambil tersenyum membalas senyumannya
Dan diapun juga membalas ucapanku "Zahra"
Dalam hatiku terucap kata, "Siapakah dia? Cantiknya bagai Laila Majnun dari Arab
(Sumpah saya ingin menangis ketika menulis ini)
Dia penuh dengan sosok yang menggembirakan
Yah, memang dia orang yang manja, penuh dengan keceriaan yang sebenarnya saya tau itu semua adalah alibinya untuk menutupi kesedihannya
Sejak saat perkenalan itu, kami mulai membangun sebuah gardu persahabatan yang mulai kokoh dengan besi-besi tajam yang masuk kedalam tanah agar tetap kuat
Kami mulai berjalan berempat " Aku, dia (Zahra), Rifda dan Putri"
Kami biasa sekali jalan berempat, hingga malam demi malam mulai kami jalani bersama
Sesekali kami menginap ditempat yang berbeda
Sungguh, saat-saat itu tak akan pernah kami lupa
Waktu tetap terus berjalan, seorang teman sekelas mulai masuk dalam gardu persahabatan kami
Kami memanggilnya Icil, orangnya kecil, selalu punya rambut pendek dan orang terngotot yang pernah saya kenal :D
Perjalanan kami begitu membahagiakan
Kami sempat bermain bersama, mulai dari makan bersama, pergi ke pantai, nongkrong sampai tengah malam
Dan bahkan, sampai mas Bodong penjual minuman di kantin bonbin (kantin depan FIB) sudah sangat mengenal kami sampai minuman yang kami pesan beserta porsi-porsinya
Kami memang begitu dekat, sedekat lem ketika menempel pada kertas
Bagai akar yang tetap berada diujung pohon
Bagai tetesan air hujan dan hamparan tanah
Bagai Unta yang selalu menemani padang pasir
Bagai mendung yang bermunculan ketika siang sudah mulai terik
Bagai hitam yang selalu menempel pada putih
Bagai sendok yang berteman garpu
Bagai rumah dengan atapnya
Bagai
bagai
bagai
dan selalu bagai...
Suatu saat tiba pada saat kami harus menerima kenyataan pada salah satu dari kami
Yaah, Zahra..
Oh Tuhan, bahkan tinta yang sudah berada ditangan ini saja tak kuasa menuliskannya
Bahkan jemari ini sudah kaku untuk mengetik pada sebuah blank space di laptop ini
Tetap kuat yang Zahra, ini adalah ujian untuk hidupmu
Bagaimanapun, kami tetap sahabatmu
Bagaimanapun juga kami akan selalu ada pada sela-sela jarimu yang kosong
Jangan lagi panggil kami sahabat jika saat kau ingin kami berada disampingmu, kami tak akan pernah ada
Kita adalah bintang dan kamu adalah langit dimalam hari yang akan kami hiasi dengan keindahan kami
Kamu adalah hujan, ketika kemarau telah datang melanda kami
Kita adalah satu, kita adalah sebuah alam yang bebas bergelora dengan semua senandung indahnya
Kita adalah hutan yang liar dan selalu syahdu ketika burung sudah mulai mendendangkan lagu-lagu dari kicauannya yang merdu
Apapun yang terjadi padamu, bahkan kami tau apa dibalik tawa ceriamu
Hanya saja suatu ketika kami pernah melupakanmu
Maafkan kami, itu bukan dengan sengaja kami lakukan, saat itu kami terlalu sebal denganmu yang mulai susah untuk dikasih tau
tapi percayalah sobat, kamu masih tetap mengisi jemari kami yang kosong
Kamu adalah siang untuk langit yang biru
Kamu adalah bulan, walau hanya satu percayalah kamu tak akan pernah sendiri
masih ada kami sang bintang yang siap menghiasi malammu
Kami ingin memelukmu, meminta beban hidupmu agar kamu tak terlalu berat untuk menopangnya
Sesekali izinkan kami turut menangis merasakan sakitmu
Izinkan kami membayar kesalahan kami yang pernah tak ada saat kamu merasa kesepian
Izinkan jemari kami yang kosong ini tetap menggandengmu hingga saatnya tiba
Saat dimana kita mulai bergandengan dan berlari sekuat tenaga
Kita mulai merasakan lagi bagaimana rasanya indahnya kebersaan kita
Izinkan sapu tangan ini mengusap air matamu hingga tak akan pernah keluar lagi
Tolong, izinkan kami.. :(
Kita mulai menggandeng, mengaitkan dan menguatkan genggaman yang sempat terlepas ini
Because, we are friendship
We love you Zahra...
Tetap semangat untuk menjalani ini semua kawan, Zahra Aulianissa Agoes
*sumpah pengen nangis sekenceng-kencengnya setelah baca blogmu dan mulai nulis ini*
Foto angkatan : Dia memakai baju pink dengan jilbab abu-abu, sungguh cantik sekali :)
Ini waktu kami bermain bersama ke pantai, saya lupa nama pantainya :D
Yeaah, we are friendship : Rifda, Zahra, Aku, Icil, Putri
Aquarium MAPAGAMA
June, 8 2012
00.28am
Kami sempat bermain bersama, mulai dari makan bersama, pergi ke pantai, nongkrong sampai tengah malam
Dan bahkan, sampai mas Bodong penjual minuman di kantin bonbin (kantin depan FIB) sudah sangat mengenal kami sampai minuman yang kami pesan beserta porsi-porsinya
Kami memang begitu dekat, sedekat lem ketika menempel pada kertas
Bagai akar yang tetap berada diujung pohon
Bagai tetesan air hujan dan hamparan tanah
Bagai Unta yang selalu menemani padang pasir
Bagai mendung yang bermunculan ketika siang sudah mulai terik
Bagai hitam yang selalu menempel pada putih
Bagai sendok yang berteman garpu
Bagai rumah dengan atapnya
Bagai
bagai
bagai
dan selalu bagai...
Suatu saat tiba pada saat kami harus menerima kenyataan pada salah satu dari kami
Yaah, Zahra..
Oh Tuhan, bahkan tinta yang sudah berada ditangan ini saja tak kuasa menuliskannya
Bahkan jemari ini sudah kaku untuk mengetik pada sebuah blank space di laptop ini
Tetap kuat yang Zahra, ini adalah ujian untuk hidupmu
Bagaimanapun, kami tetap sahabatmu
Bagaimanapun juga kami akan selalu ada pada sela-sela jarimu yang kosong
Jangan lagi panggil kami sahabat jika saat kau ingin kami berada disampingmu, kami tak akan pernah ada
Kita adalah bintang dan kamu adalah langit dimalam hari yang akan kami hiasi dengan keindahan kami
Kamu adalah hujan, ketika kemarau telah datang melanda kami
Kita adalah satu, kita adalah sebuah alam yang bebas bergelora dengan semua senandung indahnya
Kita adalah hutan yang liar dan selalu syahdu ketika burung sudah mulai mendendangkan lagu-lagu dari kicauannya yang merdu
Apapun yang terjadi padamu, bahkan kami tau apa dibalik tawa ceriamu
Hanya saja suatu ketika kami pernah melupakanmu
Maafkan kami, itu bukan dengan sengaja kami lakukan, saat itu kami terlalu sebal denganmu yang mulai susah untuk dikasih tau
tapi percayalah sobat, kamu masih tetap mengisi jemari kami yang kosong
Kamu adalah siang untuk langit yang biru
Kamu adalah bulan, walau hanya satu percayalah kamu tak akan pernah sendiri
masih ada kami sang bintang yang siap menghiasi malammu
Kami ingin memelukmu, meminta beban hidupmu agar kamu tak terlalu berat untuk menopangnya
Sesekali izinkan kami turut menangis merasakan sakitmu
Izinkan kami membayar kesalahan kami yang pernah tak ada saat kamu merasa kesepian
Izinkan jemari kami yang kosong ini tetap menggandengmu hingga saatnya tiba
Saat dimana kita mulai bergandengan dan berlari sekuat tenaga
Kita mulai merasakan lagi bagaimana rasanya indahnya kebersaan kita
Izinkan sapu tangan ini mengusap air matamu hingga tak akan pernah keluar lagi
Tolong, izinkan kami.. :(
Kita mulai menggandeng, mengaitkan dan menguatkan genggaman yang sempat terlepas ini
Because, we are friendship
We love you Zahra...
Tetap semangat untuk menjalani ini semua kawan, Zahra Aulianissa Agoes
*sumpah pengen nangis sekenceng-kencengnya setelah baca blogmu dan mulai nulis ini*
Foto angkatan : Dia memakai baju pink dengan jilbab abu-abu, sungguh cantik sekali :)
Ini waktu kami bermain bersama ke pantai, saya lupa nama pantainya :D
Yeaah, we are friendship : Rifda, Zahra, Aku, Icil, Putri
Aquarium MAPAGAMA
June, 8 2012
00.28am




terima kasih, kalian yang berharga. Maaf aku belum jadi teman yang baik untuk kalian. Sekali lagi terima kasih :*
ReplyDelete