Ketika rindu, rindu ketika, merindukan ketika, mengetikakan rindu?
Pernahkah ketika kamu merasa begitu merindukan seseorang?
Bahkan anginpun tak mampu untuk berbicara padanya, membicarakan apa kata hatimu?
Bahkan bulanpun tak lagi menjadi sabit ketika kamu merasakan kegundahan itu?
Bahkan senjapun tak lagi dapat melihat sun set
Atau ketika siang tak menampakkan lagi teriknya?
Ibarat kata, langit tak dapat melihat bumi
Buah tak lagi menemukan pohonnya
Sepatu tak bertemu kaos kaki
Jam dinding tak lagi berbunyi degup degup dan degup
Atau ketika kamu ingin ada yang mengisi kekosongan jemarimu, namun hanya kehampaan angin yang kamu rasakan?
Pernahkah?
Pernahkah ketika kamu ingin dengan sungguh-sungguh bertemu seseorang, namun sangat tidak mungkin untuk menemuinya?
Yaah, itulah terkadang yang menjadi liku-liku kehidupan ketika kamu sudah merasakan KEHILANGAN
But, dont be afraid...
Kamu masih dapat menyuarakan senandung kerinduan kepada alam yang mungkin lebih mengerti perasaanmu melebihi siapapun
Kamu masih dapat bergelora merasakan cerianya pohon-pohon yang sering menari
Dan terkadang kamupun dapat bercerita kepada malam dan kesendirian yang sebenarnya akan selalu menjadi sahabat setiamu
Ketika, saya mulai merasakan rindu yang begitu mendalam, banyak yang berkata "yaa, itu wajar"
Namun ketahuilah, jauh dalam lubuk hati yang paling dalam, saya menginginkan kata-kata yang lebih
Saya lebih memilih suka dengan kata-kata yang ada dalam akal sehat yang masih menemani saya :
"Tenaang, sebenarnya kamu tak akan merasakan sendiri, kamu tak pernah merasakan merindu yang seperti itu, itu hanyalah sugesti dari naluri yang masih mengiringi kepergiannya, dia masih akan tetap menjadi awan di siang hari atau dia akan tetap menjadi bintang di malam hari yang setia menemani rembulan"
Yaah, dengan kata lain ibu masih tetap bisa melihatku
Hanya saja terkadang aku tak terlalu peka untuk merasakannya
Saat-saat seperti inilah saat dimana saya mulai tak dapat berpikir dengan akal sehat yang sangat sehat
Saat dimana saya tak dapat lagi menghitung butiran-butiran mutiara yang keluar dari mata
"Namun, menangislah ketika kamu masih ingin menangis. Dan berhentilah ketika pilang kereta sudah mulai diturunkan atau kamu akan tertabrak oleh kecepatan yang begitu dahsyat dan ketika kamu mulai berhenti lihatlah keatas betapa indahnya alunan gelora dilangit, maka tersenyumlah untuk menyambut dia yang mengintip dari alam yang berbeda :)", kata seorang sahabat saya
She was gone, but life must go on. Isn't that?
Still miss you mom :)
*and still miss him when he so far away from here :)


Comments
Post a Comment