You're the greatest father

Kembali saya terbangun, memikirkan suatu keadaan yang tak dapat terlihat. Mengulang peristiwa yang tak ingin terulang, seperti berjalan, melayang dan tenggelam. Goresan ini ingin ku luapkan, hanya saja saya kehilangan pena. Tulisan ini ingin kusampaikan, ntah kenapa mulut tak dapat berkata. Bahkan bila didekatnya awan seperti payung, air seperti sejuk dan menyucikan, bara seperti berlian yang begitu berharga, dan amarah menjadi begitu mengelupas dari nyawanya

Dia.. Seperti api yang kehilangan arang. Seperti pohon yang kehilangan akar. Seperti rumah yang tanpa atap. Dia begitu mengejukkan, dia begitu berharga, bahkan saya rela untuk menjadi arang yang terbakar, saya rela menjadi akar yang tenggelam dalam genangan tanah atau saya akan menjadi atap yang kan harus kokoh menopang badai


Saat ini dia sendiri, karena hari-harinya memang selalu sendiri. Sendiri setelah dua tahun kehilangan pujaan hati. Sendiri mencoba hidup tanpa lawan, dan dia tetap mencoba untuk mencari kawan. Menyambut putra dan putrinya pulang dengan senyuman polos. Dia..Berada dalam ruang dengan ukuran 2,5 x 4 meter "mungkin", berteman radio lawas yang selalu berada di channel dakwahnya. Mendinginkan dirinya dengan kipas beremote. Dan selalu berteman Surya 16 sehabis kewajiban maghribnya...


Ketika bertemu dengannya, memori kembali terbuka. Teringat ketika dia mengajari begitu hidup penuh dengan liku-liku. Dia selalu marah, bahkan sanggup tak bicara denganku dua bulan lamanya. Namun aku tahu, dalam palung hatinya dia ingin berkata " Bapak sayang kamu "

Dia selalu memukulku, namun saya tahu tangannya berkata, "Ini adalah hukuman atas kesalahanmu yang tak boleh kau ulangi". Dia membentak, namun dalam mulutnya tersimpan gembok besar tanpa kunci "Gembok yang tak ingin terbuka agar tak keluar kata-kata keras"


Dia jarang bicara, meluapkan kesedihannya, namun saya tahu dia begitu ingin bercerita. Bahkan tak pernah ku melihatnya menangis, ketika aku meminta uang untuk biaya kuliah. Dia memendamnya sendiri, tak bisa tidur semalaman, dan entah berapa banyak kerutan di dahinya. Namun yang tak pernah ku duga esoknya uang telah masuk ke rekeningku


Dia memang seperti matahari, walau untuk saat ini tanpa bulan di malam hari. Dia adalah superman.. Oh bukan, dia lebih dari hanya sekedar superman. Dia tak pernah bertanya "adik sakit apa?"Namun saya yakin dia bahkan tak tidur semalaman untuk menjagaku terlelap. Dia memang seperti bintang bagiku, menyejukkan hati ketika langit tak berhias lagi. Seperti rembulan saat lilin sudah tak sanggup lagi untuk menyinari..

Dia..

Dia..

Dia..

Dan dia..Yeah his my greatest father

Viema Mirzalita

Jogja, 24031103.18pm


Comments

  1. baca ini jd ingat sama my greatest father jugaaa..heheee...bila melihat ayah lagi kerja..rasanya seperti org yang jahat..sprti org yang dengan sengaja merenggut hak asasi ayahq...heheeee...numpang nulis2 jugaa....

    ReplyDelete
  2. Hahahaha kakak, baru baca commentmu. Hehehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts